Senin, 06 November 2017

CERITA SEKS AKU DISETUBUHI PETUGAS ASURANSI

Cerita Seks - Kali ini aku akan menceritakan tentang kisah Seks pribadiku, sebelum aku memulai cerita Seksku ini aku akan memperkenalkan diriku dan memberikan sedikit gamabaran tentang tubuhku. Namaku Nita, aku mempunyai kulit tubuh yang putih dan mulus.




CERITA SEKS AKU DISETUBUHI PETUGAS ASURANSI

Usiaku 25 tahun, tinggi badanku 170 cm, dan berat badanku 55kg. Oh iya dalam usiaku yang tergolong muda ini, aku sudah menyandang status janda. Singkat cerita, aku mempunyai kebiasaan memandang seluruh tubuhku dalam posisi bugil di cermin kamarku, ukuran buah dadaku yang lumayan besar yaitu 35B, putingku masih berwarna kemerahan, walaupun aku sudah menikah tapi aku belum mempunyai momongan.

Dengan kulit putihku dan mulus ini, hal ini membuatku semakin percaya diri, tidak akan pernah lelaki manapun yang tidak tertarik padaku. Kemaluanku selalu kurawat, terlihat sangat indah dan bersih tanpa ada bulu sedikitpun karena aku rajin mencukurnya.

Sayang sekali keindahan tubuhku ini telah lama tidak tersentuh oleh tangan lelaki sekalipun, sejak kematian suamiku 2 tahun lalu. Bukannya aku tidak laku, tetapi belum ada satu orang pun yang mampu menggetarkan perasaanku, meskipun banyak lelaki yang mencoba masuk ke dalam kehidupanku, tapi semuanya secara halus kutepis dengan alasan belum siap.

Selama ini kesepianku kuisi dengan kesibukan kerja, selama ini aku hanya bisa memeluk guling erat-erat, dan membayangkan bahwa guling yang aku peluk ada seorang lelaki yang gagah, dan kugesekkan klitorisku hingga orgasme. Sebenarnya aku ingin mencoba menggunakan Sex Toys, tapi aku takut kemaluanku lecet dan daya elastisnya akan melemah. Juga pernah terlintas dalam otakku untuk menggunakan jasa Gigolo untuk memuaskan kebutuhan Seksku, tapi selama ini aku masih takut dan ragu dengan cara-cara itu.

Singkat cerita, pada siang tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku, dan....

"Tok, tok..." suara pintu kamarku terdengar diketuk membuyarkan lamunanku.
"Siapa ya?" sahutku.
"Saya, Nya..." terdengar suara pembantuku di balik pintu.
"Ada apa, Bi?"
"Ada tamu mau ketemu Nyonya..."
"Dari mana?" aku bertanya, sebab aku merasa tidak ada janji betemu dengan siapapun.
"Katanya dari perusahaan asuransi, udah janji ingin bertemu Nyonya."

Aku hampir lupa, bahwa aku meminta perusahaan asuransi datang kerumahku pada hari Sabtu ini, saat aku libur kerja, karena aku ingin merevisi asuransi atas rumah pribadiku yang telah jatuh tempo.

"Suruh dia masuk dan tunggu di ruang tamu, Bi!" sahutku.
Kemudian aku bergegas mengenakan pakaianku, hanya dater terusan tanpa bra dan celana dalam, karena aku tak mau tamuku menunggu lama, wajahku pun hanya sedikit kuoles bedak. Setelah aku merasa rapi, bergegas aku menemuinya.

"Selamat siang Bu!" sapaan hormat menyambutku saat aku tiba di ruang tamu .
"Selamat siang." aku membalas salamnya.
"Perkenalkan, Bu! saya Willy marketing executive di perusahaan (edited)," tangannya mengundangku bersalaman.

Aku menyambut uluran tangannya, dan mempersilahkannya duduk. Sejenak aku perhatikan, usianya kutaksir 25-an, tapi yang membuatku agak tertarik tadi saat posisi berdiri bersalaman, aku sempat mengukur tingginya 180cm-an, aku agak berkesan apalagi penampilannya bersih dengan kumis tipis yang menghiasi bibirnya, wajahnya sih memang biasa saja.

Kami terlibat obrolan panjang tentang asuransi yang ditawarkan, ternyata orangnya super ramah, cara bicaranya mencerminkan wawasannya yang luas, pandangannya tidak "jelalatan" seperti lelaki lainnya yang pernah aku temui, padahal puring buah dadaku yang tidak menggunakan bra terlihat berbayang di balik dasterku.

Tak banyak pikir lagi, aku segera menyetujuinya, apalagi preminya tidak terpaut jauh dengan asuransiku sebelumnya. Dia bejanji akan datang kembali minggu depan membawa polis-nya.
Sepulangnya dia, aku masih membayangmkannya, simpatik sekali orangnya, terutama tubuhnya yang tinggi, hampir sama dengan almarhum suamiku. Juga aku teringat jawaban almarhum suamiku bahwa orang yang tinggi agak kurus itu, 80% senjatanya panjang dan besar saat aku bertanya, mengapa senjata Mas Rudy (almarhum suamiku), besar dan panjang? Aku sendiri bingung, tak biasanya aku berpikiran seperti ini, apalagi baru pertama kali bertemu.

Tapi aku tak mau membohongi diriku, aku tertarik padanya. Waktu seminggu yang dijanjikannya terasa lama sekali. Akhirnya tibalah heri yang dijanjikannya, aku berias secantik mungkin, meskipun tidak mencolok, kusambut kedatangannya dengan manis. Kali ini kulihat Willy mengenakan setelan pakaian kerja lengkap dengan dasinya.

Setelah polis aku terima dan menyerahkan pembayarannya, aku mengajaknya mengobrol sedikit mengenai pribadinya. Ternyata umurnya 27 tahun, dengan status bujangan, dan masih mengontrakrumah di daerah Dukuh Atas, Jakarta.

"Ibu Nita sendiri, bagaimana?" kini dia balik bertanya kepadaku.
Lalu akupun menjelaskan  statusku yang kini sebagai janda, kulihat wajahnya sedikit berubah.
"Maaf, Bu! kalau pertanyaan saya menginggung perasaan Ibu." Ucapnya.
"Tidak apa-apa, toh gelar ini bukan saya yang menghendakinya, tapi sudah suratan takdir saya," jawabku.

Sejak tahu statusku janda, dia jadi sering datang kerumahku , ada saja alasannya untuk datang ke rumahku, meskipun kadang terkesan dibuat-buat. Hubungan kami menjadi lebih akrab, diapun tidak memanggilku dengan sebutan "Bu" lagi, tapi "Mbak" sedangkan aku pun memanggilnya Mas Willy. Tapi yang aku heran dari Mas Willy adalah sikapnya yang belum pernah menjurus ke arah seks sekalipun, meskipun sering kali kami bercanda layaknya orang pacaran.

Aku jadi berfikiran jelek, jangan-jangan Mas Willy pPecinta Sesama Jenis (homo). Padahal aku sudah tetapkan dalam hati, bahwa Mas Willy lah orang kedua yang boleh membawaku mengarungi samudera kenikmatan.

Tapi ternyata pikiran jelekku tidak terbukti. Kejadiannya waktu malam Minggu Mas Willy datang untuk yang kesekian kalinya. Kami memutar film roman percintaan, bibiku sejak tadi sudah masuk ke kamarnya tidak tahu nagapain. Mungkin sengaja memberi kesempatan kepada kami anak muda yang sedang dilanda asmara.

Saat adegan percumbuan berlangsung, aku meliriknya, kulihat wajahnya sedikit memerah dan celana panjangnya yang berbahan tipis, kulihat sedikit mengembung, aku bimbang. Akhirnya kutetapkan hatiku untuk  memulai percumbuan dengannya tapi bagaimana caranya? Aku ada ide agak tidak terkesan aku yang mau, aku harus pura-pura sakit.

"Aduh Mas Wil! kepalaku sakit sekali, " aku mulai menebarkan jaring. Kupegangi keningku yang tidak sakit, pancinganku berhasil, Mas Willy menghampiriku.
"Kok, tiba-tiba sakit" ucapnya.
"Anu, Mas! tekanan darahku rendah, jadi kadang-kadang bisa kambuh seperti ini," aku terus merintih layaknya orang kesakitan. Aku membaringkan tubuhku di sofa.

"Mas, tolong bawa aku ke kamar," aku semakin nekat. Ku lihat Mas Willy mulai kelabakan.
"Tolong Papah aku ya, Mas!" pintaku kepada Mas Willy. Akhirnya Mas Willy memapahku ke kamarku, kutempelkan buah dadaku kepunggungnya, terasa aliran kenikmatan di tubuhku. Dibaringkan tubuhku diranjang tidurku, dan bergegas Mas Willy keluar.
"Kemana Mas?" tanyaku pura-pura lirih.

"Aku mau bangunin bibi."
"Nggak usah Mas, tolong dibaluri minyak angin saja ," ucapku.
"Minyak anginnya dimana?" tanyanya.
"Di meja rias Mas" jawabku.
Mas Willy dengan telaten memijat keningku, kurasakan jarinya sedikit gemetar.
"Mas tolong tutup pintu dulu, entar kalau bibi lihat aku jadi nggak enak,"aku baru sadar pintu kamarku masih melongo.

"Oh iya.. TV-nya matiin dulu tolong Mas!" pintaku.
Mas Willy beranjak mematikan TV, aku segera melepaskan pakaianku, hingga tinggal Bra dan celana dalam saja, kututupi tubuhkku dengan selimut, Mas Willy telah kembali ke klamarku dan menutup pintunya.
"Mas tolong kerokin aja deh"aku mulai memasang jurus.
"Lho, pusing kok dikerokin?" tanyanya dengan nada agak binggung.
"Biasanya kalau aku pusing begini Mas!" aku berkilah tak mau kebohonganku terbongkar.

Mas Willy  menurut, dan mencari uang logam untuk mengeroki tubuhku,
"Jangan pakai uang logam, Mas! aku biasanya pakai bawang" ucapku lagi.
Setelah aku beritahu tempat bawang, Mas Willy kembali lagi ke kamarku, kali ini ku lihat wajahnya sedikit berkeringat, tidak tahu keringat apa. Segera aku tengkurap.
"Cepat Mas, kepalaku tambah pusing, nih!" ucapku, kemudian Mas Willy membuka selimut yang menutupi tubuhku, dan...
"Hah... Mbak Nita, kapan melepas baju?" nadanya terkejut sekali ketika melihat aku yang sudah tidak pakai baju.
"Tadi, waktu kamu keluar," jawabku santai. hening sejenak, mungkin Mas Willy bimbang menyentuh tubuhku.
"Ayo Mas, buruan!" suruhku.
"Iya... mmaf ya Mbak!" aku mulai merasakan dinginnya air bawang di pundakku, gemetrannya tangan Mas Willy terasa sekali.
"Kenapa tangan Mas gemeteran?" tanyaku.
"Eee.. eee..., aku nggak biasa ngerokin soalnya Mbak," suaranya agak gugup.
"Rileks aja Mas," aku mencoba menenangkannya.

Akhirnya gerakan tangan Mas Willy semakin lancar di punggungku. Aku mulai merasakan bulu kudukku bangun, terlebih saat tangan Mas Willy mengeroki bagian belakang leherku. Segera aku membalikkan tubuhku, kini buah dadaku yang besar tepat berada di hadapan Mas Willy.

"Mbak, kalau ngerok depan aku nggak berani," aku sudah tak mau bersandiwara lagi.
"Mas, kalau depannya jangan dikerok, tapi dibelai," kulihat wajahnya sedikit pucat.
"Memang Mas Willy nggak mau?" aku menantangnya terang-terangan."
"Aku nggak pernah, Mbak..." jawaban polosnya membuat aku sadar bahwa dalam urusan seks ternyata Mas Willy tidak punya pengalaman apa-apa alias perjaka ting-ting.

Berpikir seperti itu, nafsuku kian bangkit, segera kudorong tubuhnya hingga rebah diatas pembaringanku. Kubuka kancing bajunya dan melemparkannya ke lantai.
"Mbak, jangan..." ujarnya.

Mas Willy masih berusaha menolal, tapi aku yakin suaranya hanya sekedar basa-basi, atau refleksi dari belum pernahnya. Aku mulai menciumi bibir Mas Willy, kumis tipisnya terasa geli dibibirku. Tapi tak ada balasan.

"Mas Willy kok diam saja sih," aku bertanya manja.
"Tapi, Mbak jangan marah... ya?" tanyanya bodoh.

Orang aku yang minta kok aku yang marah? Mungkin disentakkan oleh kesadaran bahwa dirinya adalah lelaki, Mas Willy langsung menyambar bibirku dan melumatnya. Aku berteiak senang dalam hati, malam inilah dahagaku akan terpuaskan.

Ciuman kami berlangsung lama, jari-jariku bergerak mengusap dadanya, putingnya yang hitam kutarik-tarik, sementara jari-jari Mas Willy mulai membelai buah dadaku, usapannya pada puting buah dadaku, membuat syaraf kewanitaanku bangkit, meskipun usapannya terasa agak takut-takut tapi kenikmatan yang aku peroleh tidak berkurang.

Apalagi tekanan keras dipahaku membuatku segera sadar bahwa senjata Mas Willy, perlahan-lahan mulut dan lidah Mas Willy mulai menggelitik puting buah dadaku, yang terasa makin mengeras.
"Mas... terusss... enak..." aku mulai merintih kenikmatan.

Tanganku segera menggenggam senjatanya, tapi sungguh mati aku kaget dibuatnya, besar sekali. Lebih besar dari punya almarhum suamiku. Aku semakin bernafsu, kukocok perlahan senjatanya yang keras dan kokoh, Mas Willy merintih tak karuan.

Hisapannya semakin keras dibuah dadaku membalas kocokan tanganku di senjatanya. Aku sudah tak tahan lagi menunggu permainan Mas Willy di buah dadaku saja, nafsuku yang tertahan selama 3 tahun membuncah hebat dan menuntut penyaluran secepatnya. Dengan penuh nafsu aku segera ambil posisi di atas, tanganku terus mengocok senjatanya yang semakin panjang dan membesar, lidahku mulai menjilati dadanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, pada bagian putingnya ku hisap dan kugigit pelan.

"Mbak... aku udah nggak tahan..." Kupercepat gerakan tanganku.

Kulihat muka Mas Willy semakin memerah. Mulutku yang mungil sampai pada senjatanya yang kaku, kujilati seluruh batang senjatanya, kugelitik halus lubang atasnya. Kumasukkan senjatanya kedalam mulutku.

"Uffhhh..." terasa penuh di mulutku, akibat besarnya senjata Mas Willy.

Mulutku mulai menyedot-nyedot, sementara tanganku terus mengocok batang senjatanya. Remasan tangan Mas Willy di rambutku semakin kuat, hingga akhirnya saat ku hisap kuat dengan kocokanku percepat, aku merasakan tubuh Mas Willy bergetar hebat dan...

"Mbak..." Mas Willy menjerit, terasa cairan kenikmatan itu memenuhi mulutku, agak anyir, tapi aku menelannya sampai tuntas.

Memang perjaka tulen, sebentar saja senjatanya sudah membesar kembali, dan siap bertempur. Aku segera berkongkok di atas tubuhnya, ku arahkan senjatanya yang besar di lubang kewanitaanku yang sudah basah. Perlahan kuturunkan pinggulku, seret sekali, mungkin terlalu lama tidak dimasuki senjata pria, apa lagi senjata Mas willy yang besar dan panjang.

Aku merasakan sedikit sakit tapi lebih banyak nikmatnya. Saat bulu kemaluan kami bertemu, dimana senjata Mas Willy amblas seluruhnya ke dalam kemaluanku, sulit digambarkan kenikmatan yang aku dapatkan. Aku diamkan sejenak menikmati denyutan senjata Mas Willy di liang kewanitaanku. Kulirik wajah Mas Willy yang terpejam, mungkin menikmati remasan kewanitaanku di seluruh batang senjatanya.

Perlahan aku gerakkan pantatku naik turun, kian lama gerakan pinggulku kian buas, aku sudah tak dapat menguasai lagi nafsuku yang sudah tertahan, sesaknya senjata Mas Willy dikemaluanku ditambah cairan pelumas dari tubuh kami masing-masing menimbulkan suara-suara birahi seirama dengan gerakan pantatku. Akhirnya...

"Mbak... aku nggak tahan..." ucapnya.
Aku rasakan semburan hangat dikewanitaanku, aku semakin cepat menggerakkan pinggulku meraih puncak kenikmatan yang tinggal selangkah lagi, tapi senjata Mas Willy melembek hingga akhirnya mengecil. Aku tambah panik dan histeris dengan nafsuku yang tergantung. Aku mencoba membangkitkan kembali nafsu Mas Willy, tapi setiap kali aku mau orgasme, Mas Willy sellau mendahuluiku. Sampai sekarang meskipun kami jadi sering berhubungan badan tapi belum pernah sekalipun aku orgasme. Kalau baru pertama aku masih bisa terima, tapi sudah yang sekian kalipun masih begitu. Entahlah, kalau buat keperkasaan. Mas Willy jauh dengan almarhum suamiku yang dapat membawaku ke puncak orgasme hingga berkali-kali. END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar