Jumat, 03 November 2017

CERITA DEWASA SEKRETARIS SEXY YANG GATEL MINTA NGENTOT

CERITA SEKS - Pagi itu pada waaktu jam masuk kantor aku berpaspasan dengannya dipintu masuk, seperti biasa kita saling tersemyum dan mengucapkan selamat pagi.




Sekretaris Sexy Yang Gatel Minta Ngentot

Ah lucu juga kita yang sudah kenal beberapa tahun masih melakukan kebiasaan seperti itu, padahal untuk hitungan waktu selama tiga tahun kita harus lebih akrab dari itu, tapi mau bagaimana lagi karena Silvi orangnya memang seperti itu jadi akupun terbawa-bawa, aku sendiri bertanya-tanya apakah sifatnya yang seperti itu hanya untuk menjaga jarak dengan orang-orang di lingkungan kerja atau memang dia punya pembawaan seperti itu sejak lahir.

Mungkin waktu itu aku sedang ketiban mujur, tepat di pintu masuk entah apa penyebabnya tiba-tiba saja Silvi seperti akan terjatuh dan refleks aku meraih badannya dengan maksud untuk menahan supaya dia tak benar-benar terjatuh, tapi tanpa sengaja tanganku menyentuh sesuatu di bagian dadanya. CERITA DEWASA

Setelah dapat berdiri dengan sempurna Silvi memandang ke arahkku sambil tersenyum, ya ampun menurutku itu merupakan sesuatu yang istimewa mengingat sifatnya yang kuketahui selama ini.

"Terima kasih Pak Nendi, hampir saja aku terjatuh."
"Oh, gak apa-apa, maaf barusan tak sengaja."
"Tak apa-apa."

Seperti itulah dialog yang tadi pagi itu. Walaupun gak mau mikirin terus kejadian tersebut tapi aku tetap merasa kurang enak karena telah menyentuh sesuatu pada badannya walaupun gak sengaja, waktu kutengok ke arah meja kerjanya melalui kaca pintu ruanganku dia juga kelihatannya kepikiran dengan kejadian tersebut, untung waktu masuk kerja masih empat puluh lima menit lagi jadi belum ada orang, seandainya pada waktu itu sudah banyak orang mungkin dia selain merasa kaget juga merasa malu.

Aku kembali melakukan rutinitas keseharian menggeluti angka-angka yang gak ada ujungnya. Sudah kebiasaanku setiap tiga puluh menit memandang gambar panorama yang kutempel dikaca pintu ruanganku untuk menghindari kelelahan pada mata, tapi ternyata ada sesuatu yang lain di seberang pintu ruanganku pada hari itu, aku melihat Silvi memandang ke arah yang sama sehingga pemandangan kami bertemu.

Lagi, dia tersenyum ke arahku, aku malah jadi bertanya-tanya ada apa gerangan dengan perempuan itu, aku yang geer atau memang dia jadi lain hari ini, ah mungkin hanya pikiranku saja yang ngelantur. Cerita bokep

Jam istirahat makan seperti biasa semua orang ngumpul di EDR untuk makan siang, dan suatu kebetulan lagi waktu nyari tempat duduk ternyata kursi yang kosong ada disebelah Silvi, akhirnya aku duduk disana dan menyantap makanan yang sudah kuambil.

Setelah selesai makan, kebiasaan kami ngobrol ngalor-ngidul sambil menunggu waktu istirahat habis, karena aku duduk disebelah dia jadi aku ngobrol sama dia, padahal sebelumnya kau malas ngobrol sama dia.

"Gimana kabar suaminya vi?" aku memulai percakapan
"Baik pak."
"Terus gimana kerjaannya? masih ditempat yang dulu?"
"Sekarang sedang meneruskan studi di amerika, baru berangkat satu bulan yang lalu."
"Oh begitu, baru tahu aku."
"Ingin lebih pintar katanya pak."
"Ya baguslah kalau begitu, kan nanatinya untuk masa depan berdua."
"Iya pak."

Setelah jam istirahat habis semua kembali keruangan masing-masing untuk meneruskan kerjaan yang tadi terhenti. Akupun kembali hanyut dengan kerjaanku.

Pukul stengah tujuh aku bermaksud beres-beres karena penat juga kerja terus, tanpa sengaja aku nengok ke arah pintu ruanganku ternyata Silvi masih ada di mejanya. Setelah semua beres-beres akupun keluar dari ruangan dan bermaksud untuk pulang, aku melewati mejanya dan iseng aku menyapa dia.

"Kok tumben hari gini masih belum pulang?"
"Iya pak, ini baru mau pulang, baru beres, banyak kerjaan hari ini"

Aku merasakan gaya bicaranya lain hari ini, tak seperti hari-hari sebelumnya yang kalau bicara selalu kedengaran resmi, yang menimbulkan rasa tak akrab.

"Ya udah kalau begitu kita bareng aja." ajakku menawarkan.
"Tak usah pak, biar aku pulang sendiri saja."
"Gak apa-apa, ayo kita bareng, ini udah terlalu malam."
"Baik pak kalau begitu."

Sambil berjalan menuju tempat parkir kembali kutawarkan jasa yang walaupun hanya iseng saja.

"Gimana kalau Silvi bareng aku, kita kan searah,"
"Gak usah pak, biar aku pakai angkutan umum atau taksi saja."
"Lho, jangan gitu, ini udah malam, gak baik perempuan jalan sendiri malam-malam."
"Baik pak kalau begitu pak."

Di sepanjang jalan yang dilalui kami tak banyak bicara sampai akhirnya aku perhatikan dia agak lain, dia kelihatan murung, kenapa ini perempuan.

"Lho kok kelihatan murung, kenapa?" tanyaku penasaran.
"Gak apa-apa pak."
Gak apa-apa kok ngelamun begitu, perlu teman buat ngobrol?" tanyaku memancing.
"Gak ah pak, malu ."
"Kok malu sih, gak apa-apa kok, ngobrol aja aku dengarin, kalo bisa dan perlu mungkin aku akan bantu."
"Susah mulainya pak, soalnya ini terlalu pribadi."
"Oh begitu, ya kalau gak mau ya gak usah, aku nggak akan maksa."
"Tapi sebetulnya memang aku perlu seseorang untuk teman ngobrol tentang masalah ini."
"Ya udah kalau begitu obrolin aja sama aku, rahasia dijamin kok."

"Ini soal suami aku pak."
"Ada apa dengan suamimu?"
"Itu yang bikin aku malu untuk meneruskannya."
"Gak usah malu, kan udah aku bilang dijamin kerahasiaannya kalau Silvi ngobrol ke aku."
"Anu, aku seing baca buku-buku mengenai hubungan suami istri."
"Terus kenapa?"
"Aku baca, akhir dari hubungan badan antara suami istri yang bagus adalah orgasme yang di alami oleh keduanya."
"Terus letak permasalahannya dimana?"
"Mengenai orgasme, aku sampai dengan waktu ini aku hanya sempat membacanya tanpa pernah merasakannya."

Aku sama sekali gak pernah menduga kalau pembicaraannya akan mengarah kesana, dalam hati aku membatin, masa sih kawin satu setengah tahun sama sekali belum pernah mengalami orgasme? timbul niatku untuk beramal. CERITA HOT

"Masa sih vi, apa betul kamu belum pernah merasakan orgasme seperti yang barusan kamu bilang?"
"Betul pak, kebetulan aku ngobrolin masalah ini dengan bapak, jadi setidaknya bapak bisa memberi masukan karena mungkin ini adalah masalah laki-laki.
"Ya, gimana ya, sekarang kan suami Silvi lagi gak ada, seharusnya waktu suami Silvi ada barengan pergi ke ahlinya untuk konsultasi masalah itu."
"Pernah beberapa kali aku ajak suami aku, tapi menolak dan akhirnya kalau aku singgung masalah itu hanya menimbulkan pertengkaran diantara kami."

Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan tanpa terasa pula kami sudah sampai didepan rumah Silvi, aku bermaksud mengantar dia sampai depan pintu rumahnya.

"Tak usah pak, biar sampai disini saja."
"Gak apa-apa, takut ada apa-apa biar aku antar sampai depan pintu."

Dasar, kakiku menginjak sesuatu yang lembek ditanah dan hampir saja terpeleset karena penerangan di depan rumahnya agak kurang. Setelah sampai di teras rumahny kulihat kakiku, ternyata yang ku injak adalah sesuatu yang kurang enak disebutkan, sampai-sampai sepatuku sebelah kiri hampir setengahnya kena. FOTO BUGIL

"Aduh Pak Nendi, gimana dong itu kakinya."
"Gak apa-apa, nanti aku cuci kalau sudah nyampe rumah."
"Dicuci disini aja pak, nanti gak enak sepanjang jalan kecium baunya."
"Ya udah, kalau begitu aku ikut ke toilet."

Setelah membersihkan kaki aku dipersilahkan duduk di ruang tamunya, dan ternyata disana sudah menunggu segelas kopi hangat. Sambil menunggu kakiku kering kami berbincang lagi.

"Oh ya vi, mengenai yang kamu ceritakan tadi di jalan, gimana cara kamu mengatasinya?"
"Aku sendiri binggung Pak harus bagaimana."

Mendengar jawaban seperti itu dalam otakku timbul pikiran kotor lelaki.

"Gimana kalau besok-besok aku kasih apa yang kamu pengen?"
"Yang aku mau yang mana pak?"
"Lho, itu yang sepanjang jalan kamu bilang belum pernah ngalamin."
"Ah, bapak bisa aja."
"Benar kok, aku bersedia ngasih itu ke kamu."

Termenung dia mendengar perkataanku tadi, melihat dia yang sedang menerawang aku berpikir kenapa juga harus besok-besok, kenapa gak sekarang aja selagi ada kesempatan.

Kudekati dia dan kupegang tangannya, tersentak juga dia dari lamunannya sambil menatap kearahku dengan penuh tanda tanya. Kudekatkan wajahku ke wajahnya dan kukecup pipi sebelah kanannya, dia diam tak bereaksi.

Ku kecup bibirnya, dia menarik napas dalam entah apa yang ada dipikirannya dan tetap diam, kulanjutkan mencium hidungnya dan dia memejamkan mata.

Ternyata napsu sudah mengelogoti kepalaku, kulumat bibirnya yang tipis dan ternyata dia membalas lumatanku, bibir kami saling berpagut dan kulihat dia begitu meresapi dan menikmati adegan itu.

Kutarik tangannya untuk duduk disebelahku di sofa yang lebih panjang, dia hanya mengikuti sambil menatapku. Kembali kulumat bibirnya, lagi, dia membalasnya dengan penuh semangat.

Dengan posisi duduk seperti itu tanganku bisa mulai bekerja dan bergrilya. Kuraba bagian dadanya, dia malah bergerak seolah-olah menyodorkan dadanya untuk ku kerjain.

Kuremas dadanya dari luar bajunya, tangan kirinya membuka kancing baju bagian atasnya kemudian membimbing tangan kananku untuk masuk ke dalam BHnya. Ya ampun benar-benar udah nggak tahan dia rupanya. Cerita Dewasa

Kulepas tangan dan bibirku dari badannya, aku berpindah posisi bersandar pada pegangan sofa tempatku duduk dan membuka kakiku lebar-lebar.

Kutarik dia untuk duduk membelakangiku, dari belakang kubuka baju dan BHnya yang waktu itu sudah nempel gak karuan, kuciumi leher bagian belakang Silvi dan tangan kiri kananku memegang gunung di dadanya masing-masing satu, dia bersandar kebadanku seperti lemas tak memiliki tenaga untuk menopang badannya sendiri dan mulai kuremas payudaranya sambil terus kucimi tengkuknya.

Setelah cukup lama meremas buah dadanya tangan kiriku mulai berpindah ke bawah menyusuri bagian perutnya dan berhenti ditengah selangkangannya, dia melenguh waktu kuraba bagian itu.

Kusingkap roknya dan tanganku langsung masuk ke celana dalamnya, kutemukan sesuatu yang hangat-hangat yang lembab disana, sudah basah rupanya. Kutekan klitorisnya dengan jari tengah kiriku.

"Ohh.. ehh.."

Aku semakin bernafsu mendengar rintihannya dan kumasukkan jariku ke kemaluanny, suaranya semakin menjadi. Kukeluar masukkan jariku disana, badannya semakin melinting seperti batang palastik kepanasan, terus kukucek-kucek semakin cepat badannya bergetar menerima perlakuanku. Dua puluh menit lamanya kulakukan itu dan akhirnya keluar suara dari mulutnya.

"Udah dulu pak, aku gak tahan pengen pipis."
"Jangan ditahan biarkan aja lepas."
"Aduh pak, gak tahan, Silvi mau pipis.. ohh.. ahh.."

Badannya semakin bergetar, dan akhirnya.
"Ahh.. uhh.."
Badannya mengejang beberapa waktu sebelum akhirnya dia lunglai bersender kedadaku.
"Gimana vi rasanya?"
"Enak pak."

Kulihat air matanya berlinang.
"Kenapa kamu menangis vi."
Dia diam tak menyahut.

"Kamu nyesel udah melakukan ini?" tanyaku.
"Bukan pak."
"Lantas?"
"Aku bahagia , akhirnya aku mendapatkan apa yang aku idam-idamkan selama ini yang seharusnya datang dari suamiku."
"Oh begitu."

Kami saling terdiam beberapa waktu sampai aku lupa bahwa jari tenagah kiriku masih bersarang didalam kemaluannya dan aku cabut perlahan, dia menggeliat waktu aku tarik jari tanganku, dan aku masih tercenung dengan kata-kata terakhir yang terloncar dari mulutnya, benar rupanya... dia belum pernah merasakan orgasme. agencoli.info

"Mau ke kamar mandi pak?"
Tiba-tiba suara itu menyadarkanku dari lamunan...
"Oh ya, sebelah mana kamar mandinya?"
"Sebelah sini pak", sahutnya sambil menunjukkan jalan ke kamar mandi.

Dia kembali ke ruang tamu sementara aku mecuci bagian tangan yang sudah melaksanakan tugas sebagai seorang laki-laki terhadap seorang perempuan. Tak habisnya aku berpikir, kenapa orang berumah tangga sudah sekian lama tapi si perempuan baru mengalami orgasme satu kali saja dan itupun bukan oleh suaminya.

Selesai dari kamar mandi aku kembali ke ruang tamu dan kutemukan dia sedang melihat acara di televisi, tapi kulihat dari wajahnya seakan pikirannya sedang menerawang, entah apa yang ada dalam pikirannya waktu itu.

"Vi, udah malam  nih, saya pulang dulu ya.."

Terhenyak dia dan menatapku..

"Emm, pak mau nggak malam ini nemenin Silvi?

Kaget juga aku menerima pertanyaan seperti itu karena memang tak berpikir untuk menginap dirumahnya malam ini, tapi aku tak mau mengecewakan dia yang meminta dengan wajah berharap.

"Waktu kan masih banyak, besok kita ketemu lagi di kantor, dan kapan-kapan kita masih bisa ketemu lagi diluar kantor."

Dia berdiri dan menghampiriku..

"Terima kasih ya pak, Silvi sangat bahagia malam ini, saya harap bapak tidak bosan menemani saya."
"Kita kan kenal sudah lama, saya selalu bersedia untuk membantu klamu dalam hal apapun."
"Sekali lagi terima kasih, boleh kalau mau pulang sekarang dan tolong sampaikan salam saya buat ibu."

Akhirnya aku pulang denga terus dihinggapi pertanyaan didalam pikiranku, kenapa dia bisa begitu, kasihan sekali dia.

Seperti biasanya esok hari aku masuk kantor pagi-pagi sekali karena memang banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, kupikir belum ada siapa-siapa karena biasanya yang sudah ada waktu aku datang adalah office boy, tapi pagi itu aku disambut dengan senyuman Silvi yang sudah duduk di meja kerjanya.

Tak seperti biasanya, pada hari-hari sebelumnya aku selalu melihat Silvi dalam penampilan yang lain pagi ini, sekarang dia terlihat berseri dan terkesan ramah dan akrab.

"Pagi vi."
"Pagi pak."
Gimana, bisa tidur nyenyak tadi malam?"
"Ah bapak, bisa aja, tadi malam saya tidur pulas sekali."
"Ya sudah, saya tinggal dulu ya, selamat bekerja."
"Iya pak."

Aku meneruskan langkahku menuju ruang kerjaku yang memang tidak jauh dari meja kerjanya, dari dalam ruangan kembali aku menenggokkan wajah ke arahnya, ternyata dia masih menatapku sambil tersenyum. FOTO BUGIL

Tak seperti biasanya, aku merasakan hari ini bekerja merupakan sesuatu yang membosankan, suntuk rasanya menghadapi pekerjaan yang memang dari hari ke hari selalu saja ada sesuatu yang harus diulang, akhirnya aku menulis cerita ini.

HP didalam saku celanaku berbunyi, ada SMS yang masuk, kubuka SMS tersebut yang rupanya datang dari perempuan diseberang ruanganku yang tadi pagi menatapku sampai aku masuk ke ruangan ini.. ya dia, Silvi.

"Pak, nanti malam ada acara nggak? kalau tak bisa gak bapak menuhin janji tadi malam."

Begitulah isi SMS yang kuterima, aku berpikir agresif juga nih perempuan pada akhirnya.
Kuangkat telepon yang ada diatas meja kerjaku dan kutekan nomor extensin dia.

"Kenapa gitu vi, mau ngajak kemana?"
"Eh bapak, kirain siapa, enggak, Silvi udah nyediain makan malam dirumah, bapak bisa kan makan malam sam Silvi nanti malam?"
"Boleh, kalau gitu nanti pulang saya tunggu di ruang paarkir ya."
"Iya pak, makasih."

Sore hari aku terkejut karena waktu pulang sudah terlewat sepuluh  menit, bergegas kubereskan ruanganku dan berlari menuju ruang parkir. Disana Silvi sudah menungguku, tapi dia tersenyum melihatku datang, tadinya kupikir dia akan kecewa, tapi syukurlah kelihatannya dia tak kecewa.

"Maaf jadi nunggu nih vi, harus beres-beres sesuatu dulu."
"Gak apa-apa pak, Silvi juga barusan ada yang harus diselesaikan dulu dengan Neni."
"Yo." kataku sambil membukakan pintu masuk untuk dia, dan dia masuk kedalam mobil kemudian duduk disebelahku.

Diperjalanan akmi ngobrol kesana kemari, dan tanpa terasa akhirnya kami sudah ke komplek perumahan dimana Silvi tinggal lalu kami turun menuju rumahnya. Dia membuka pintu depan rumahnya dengan susah, rupanya ada masalah dengan kunci tersebut.

Aku tak berusaha membantunya, karena dari belakang baru kuperhatikan kali ini kalau bagian tengah belakang milik Silvi menarik sekali, lingkarannya tidak terlalu besar, tapi aku yakin laki-laki akan suka bila melihatnua dalam keadaan setengah berjongkok seperti itu.\

Akhirnya pintu terbuka juga dan dia mempersilahkan aku masuk, dan kamipun masuk. Setelah mempersilahkan aku untuk duduk, dia pergi ke kamarnya, setelah itu dia kembali lagi dengan pakaian yang sudah digantinya, dia tak langsung menghampiriku tapi terus melangkah ke arah dapur dan kembali dengan segelas kopi, lalu dia menyodorkan kopi tersebut kepadaku.

"Wah enak sekali nih hari gini minum kopi, kamu kok nggak minum kopi juga vi?"
"Saya nggak pernah minum kopi pak, gak boleh sama si mas."
"Oh gitu."
"Pak mobilnya dimasukkin garasi aja ya, biar Silvi yang mindahin."
"Boleh sekalian saya mau ikut ke kamar mandi dulu, badan rasanya nggak enak kalau masih ada keringatnya."
"Handuknya ada dikamar mandi pak."

Dia berdiri sambil menerima kunci mobil yang kuserahkan sedangkan aku ngeloyor ke kamar mandi untuk terus membersihkan badan yang memang rasanya agak nggak enak setelah barusan diperjalanan dihadapkan dengan kondisi jalan yang cukup macet tidak seperti biasanya.

Keluar dari kamar mandi kudapati Silvi yang kelihatan sedikit binggung, kutanya dia.

"Kenapa vi, kok seperti binggung begitu..."
"Anu pak, barusan ada telepon dari restoran yang saya pesani untuk makan malam, katanya gak bisa antar makanan yang dipesan karena kendaraan nggak ada."
"Ya sudah gak apa-apa, kita kan bisa bikin makanan sendiri, punya apa yang bisa dimasak?"
"Aduh pak, Silvi jadi malu."
"Udah gak apa-apa kok, malah jadi bagus kita bisa masak barengan."

Kataku sambil tersenyum, Silvi melangkahkan kakinya menuju dapur dan kuikuti, sampai didapur dia membuka lemari es yang ternyata hanya ada sedikit makanan yang siap di masak disana. Akhirnya kami masak masakan seadanya sambil berbincang kesana kemari.

Tanpa sengaja aku perhatikan postur tubuh Silvi yang terlihat lain dengan pakaian yang dikenakan sekarang, pakaian yang sedikit agak ketat menyebabkan lekuk-lekuk badannya terlihat jelas, sungguh bentuk badan yang sempurna untuk wanita seusia dia.

Tanpa sadar kuhampiri dia dan dari belakang kupeluk dia yang sedang melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, dia menoleh kearahku dan tersenyum, kudekatkan bibirku ke bibirnya dan dia menyambutnya, awalnya hanya ciuman biasa sampai akhirnya kami saling berpagutan disini, ya didapur miliknya.

Berlanjut terus pergulatan bibir tersebut, kuraba buah dadanya dan kuremas dari luar bajunya. Tangan Silvi bergerak membuka kancing baju bagian depan dilanjutkan dengan menyikapkan BH yang dia pakai, dengan demikian tanganku kiri kanan lebih leluasa meremasnya.

Beberapa waktu kemudian kulepaskan bibirku dari bibirnya dan kuarahkan ke buah dadanya yang terlihat sungguh indah dengan warna puting yang kemerahan, kujilati puting yang sebelah kanan dan dia menarik nafas dalam menerima perlakuanku itu, akhirnya kukulum puting itu dan kuhisap dalam-dalam sambil tangan kananku tetap meremas dadanya yang sebelah kiri.

Tangan kiriku kugerakkan ke arah pantatnya, dan kuremas pantatnya yang kenyal itu. Kumasukkan tangan itu ke rok yang dia pakai dan disana kuraba ada sesuatu yang hangat dan sedikit basah dan kuraba-raba bagian itu terus menerus.

Rupanya dia tak tahan menerima sikapku itu, tangannya bergerak membuka resleting roknya dan melorotkannya ke bawah. Aku hentikan kegitan bibirku di buah dadanya lalu kubuka celana dalamya yang kutemukan bulu indah yang tak terlalu banyak disana kusingkapkan sedikit dan kuarahkan bibirku kesana dan kujilat bagian kecil yang menonjol disana.

Cerita Dewasa Sekretaris Sexy Yang Gatel Minta Ngentot - Suara lenguhan dari bibirnya sudah tak terbayangkan lagi, akan memperpanjang cerita kalau saya tuliskan disini.

"Oh pak, saya belum pernah merasakan ini, oh.."

Aku terus melanjutkan kegiatan lidahku diselangkangannya sambil terus memasukkan lidah ini kedalam gua lembab yang berbau khas milik wanita.

Lenguhan demi lenguhan terus keluar dari mulutnya sampai akhirnya kurasakan badannya mengejang dan bergetar dengan mengeluarkan teriakan yang tak bisa ditahan dari mulutnya, dia sudah sampai ke puncak kenikmatan sentuhan seorang lelaki seperti aku ini, dan akhirnya kuhentikan kegiatanku itu lalu berdiri menghadap dia tanpa kuduga dia menciumi bibirku.

"Pak kita ke kamar ya."

Dia menuntunku masuk ke kamar tidurnya, kamar itu terlihat rapi, lalu kami duduk dipinggir tempat tidur  dan kembali saling berpagutan disana. Dia bangkit berdiri dihadapanku seraya bertanya.

"Boleh saya buka pakaian bapak?"

Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan tersebut, lalu dia membuka seluruh pakaian yang aku kenakan sampai ke celana dalamku. Dia memegang senjataku yang dia dapati dibalik celana dalam yang baru saja terbuka, lalu dia menciuminya dan menjilatinya, nikmat sekali rasanya.

"Dari dulu saya ingin melakukan ini, tapi suami saya gak pernah mau diperlakukan begini."

Dia berkata begitu sambil kembali meneruskan kegiatannya menjilati senjata milikku, tanpa kuduga dia lanjutkan kegiatannya tadi dengan mengulum dan menyedot batang kemaluanku, dan rasanya lebih nikmat dari yang kurasakan. Akhirnya dia berhenti berlaku seperti itu dan berkata.

"Pak, tidurin Silvi ya."

Tanpa menunggu permintaan itu terulang aku baringkan badannya di atas kasur, aku ciumi sekujur badannya yang dibals dengan gelinjangan badan mulus itu, akhirnya setelah sekian lama kucoba memasukkan kemaluanku ke dalam lubang senggama yang memang sudah basah dari tadi, dan "Ahh.." itulah yang keluar dari  mulut Silvi, sungguh nikmat sekali rasanya memasuki badan yang telanjang ini, dan satu lagi, lubang kemaluannya masih cukup sempit dan menggigit, terbesit dalam pikiranku sebuah pertanyaan, sebesar apa milik suaminya sampai lubang ini masih terasa sempit seperti ini.

Kuperhatikan jam yang ada di dinding kamarnya menunjukkan bahwa aku sudah mengeluar masukkan kemaluanku kedalam badannya selama dua puluh menit dan akhirnya kembali kurasakan badannya mengejang sambil mengeluarkan suara-suara aneh dari mulutnya, akhirnya dia menggelepar sambil memeluk badanku erat-erat seola tak ingin lepas dari badanku, karena pelukannya itu aku jadi terhenti dari kegiatanku.

Beberapa waktu kemudian Silvi melepaskan pelukannya dan terkulai lemas, tapi aku melihat sebuah senyuman puas diwajahnya dan itu membuat aku merasa puas karena malam ini dia sudah dua kali mendapatkan apa yang selama ini belujm pernah dia dapatkan dari suaminya.'

"Gimana vi?"
"Aduh, Silvi lemas tapi tadi itu nikmat sekali.."
"Silvi mau coba gaya yang lain?"
"Emm..."

Kubangunkan badannya dan kugerakkan untuk membelakanginya, kudorong pundaknya dengan pelan sampai dia menungging dihadapanku, kumasukkan kejantananku kedalam lubang senggamanya dan dia mengeluarkan teriakan kecil.

"Aduh... Pak enak sekali, dorong terus pak, Silvi belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini.."

Aku keluar masukkan kemaluanku ini kedalam badannya dengan irama yang semakin lama semakin kupercepat, lama jugaa aku melakukan itu sampai akhirnya di berkata "Pak Silvi mau pipis lagi..", semakin kupercepat gerakkanku karena kurasakan ada sesuatu yang mendorong ingin keluar dari dalam badanku.

Dalam kondisi lemas dan masih menungging Silvi menerima gerakan maju mundur dariku, mungkin dia tahu kalau aku sebentar lagi mencapai klimaks, dan akhirnya menyemburlah cairan dari kemaluanku masuk semua ke dalam badannya.

Cerita Dewasa Sekretaris Sexy Yang Gatel Minta Ngentot - Beberapa waktu kemudian aku merasakan badanku lemas bagai tak bertulang dan kucabut senjataku dari lubang milik Silvi.

Aku terbaring disampingnya setelah melepaskan nikmat yang tiada tara, dia tersenyum puas sambil menatapku dan memelukku, lalu kami tertidur dengan perasaan masing-masing.

Dalam tidur aku memimpikan kegiatan yang barusan kami lakukan dan waktu hampir pagi aku terbangun dan kudapati Silvi yang masih terpejam dengan wajah yang damai sambil masih memelukku, kulepaskan pelukkannya dan dia terbangun, lalu kami meneruskan kegiatan yang tadi malam terpotong oleh tidur sampai akhirnya kami berdua bangun dan menuju kamar mandi dalam keadaan masing-masing telanjang bulat tanpa sehelai benangpun menutupi badan kami.

Dikamar mandi kami melakukannya lagi, dan kembali dia mengucapkan kata-kata yang tak habis aku bisa mengerti "Silvi belum pernah melakukan seperti ini sebelumnya...".

Akhirnya kami berangkat kerja dari rumah Silvi, sengaja masih pagi agar tak ada orang dikantor yang melihat kedatangan kami berdua untuk menghindari sesuatu yang kami berdua tak inginkan.

Sampai saya menulis cerita ini, masih tetap terngiang kata-katanya yang sering mengucapkan kata-kata "Silvi belum pernah melakukan seperti ini sebelumnya.." setiap saya berhubungan dengan dia dengan gaya yang lain.

Berawal dari situlah kami sering melakukan hubungan suami istri, dan itu selalu kami lakukan atas permintaan dari dia, aku sendiri tak pernah memintanya karena aku tak mau dia punya pikiran seolah-olah aku mengeksploitir dia. Dan sekarang Silvi yang kukenal jauh berbeda dari Silvi yang dulu, dia menjadi orang yang ramah dan selalu tersenyum kepada semua orang dilingkungannya. END

CERITA DEWASA - CERITA PERAWAN - CERITA SEKS - FOTO BUGIL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar