Kamis, 26 Oktober 2017

CERITA SEX NIKMATNYA DI ORAL BIARAWATI CANTIK

Cerita sex - Sebelumnya perkenalkan namaku Bobby, aku tinggal di Gunungkidul Yogyakarta. Kisah sex nyata yang akan kuceritakan terjadi beberapa tahun yg lalu, saat itu aku masih sekolah di bangku SMP dan usiaku kala itu kira2 masih sekitar 15tahunan. Di jogja aku tinggal bersama kakek nenekku sejak kecil, sedangkan kedua orangtuaku berada di Jakarta. Entah apa alasannya mereka menitipkan diriku bersama kakek nenekku.


http://www.agencoli.info/2017/10/cerita-sex-nikmatnya-di-oral-biarawati.html

Yang jelas bukan karena mereka tidak mampu mengurusku atau soal materi. Apa yang diberikan oleh kedua orangtuaku meski memang melalui kakek nenek bisa dibilang berlebih jika dibandingkan dengan teman-teman sebayaku. Mulai dari pakaian, mainan, uang saku, dan masih banyak lagi yang secara tidak langsung membuat aku jadi anak yang cenderung suka cari perhatian dan arogan. Meski begitu prestasiku dalam bidang pendidikan bisa dibilang cukup baik, kenyataannya aku bisa diterima di salah satu SMP Negri favorit di daerahku.

Sebelumnya aku akan menceritakan kehidupan kakek nenekku. Mereka menikah beda agama. Kakekku yg berasal dari desa menganut agama Islam, sedangkan nenekku yg masih keturunan ningrat-Belanda memeluk agama Katolik. Meski mereka berdua sangat sayang padaku, tapi aku lebih dekat dengan kakek walopun aku beragama katolik sesuai dengan agama kedua orang tuaku.

Tak sekalipun kakek mengajarkan tentang agamanya meskipun kami begitu dekat. Sedangkan jika aku harus dekat dan belajar seharusnya dengan nenek tapi yg ada aku selalu diomelin dan dituntut untuk menjadi anak yang baik dalam segi apapun.

Karena itulah aku jadi sangat dekat dengan kakek, aku selalu berlindung dibalik kakek. Tapi bila keadaan sudah terdesak dan kakek pun merasa perlu menyerahkan aku pada nenek, dan aku lebih memilih kabur hingga kakek dan nenekku sampai bingung bagaimana aku bisa mendapatkan pemahaman agama yang baik, karena dalam semua mata pelajaran di sekolah, pelajaran agama adalah mata pelajaran yang paling jeblok dalam raporku.

Suster Natalia yg merupakan guru agamaku terkadang hampir habis kesabaranya saat mengajarku dalam kelas. Pengetahuan agama yang kurang ditambah sikap dan perilaku yang nakal membuat beliau datang ke rumah dan membahas soal kenakalan dan prestasiku yang jeblok di sekolah.

Suster Natalia adalah seorang suster yang bertugas di paroki dan juga mengajar agama Katolik di sekolahku. Selain pengetahuan agama yg kurang, sebenarnya Suster Natalia ini juga jadi salah satu faktor nilaiku jeblok. Bagaimana tidak, setiap beliau mengajar bukan soal pelajaran yang aku serap, tp aku justru sering melamun soal suster Natalia. Jika boleh aku gambarkan disini, beliau berasal dari NTT, dengan ciri khas orang timur berkulit sawo matang, posturnya bisa dibilang proporsional, tubuhnya ramping meski tidak terlalu tinggi, lekuk tubunya samar tercetak dibalik baju keagamaan dengan ukuran pas badan, belum lagi kedua matanya yang bening.

Beliau sering kujadikan fantasi sex ku saat aku beronani baik di rumah atau di toilet sekolah. Terlebih jika beliau sedang menulis di papan tulis, tangan kanannya yang terangkat karena papan tulis yang terlalu tinggi dan tangan kirinnya yang memegang buku panduan membuatku seolah ingin memeluknya dari belakang, meremas toketnya sambil menggesek-gesekkan kontolku di pantatnya. Kadang sesekali mataku sampai terpejam membayangkan betapa nikmatnya tubuh suster Natalia. Hingga pada suatu hari …

“PLAKKKKK…” (suara penggaris kayu di pukulkan di mejaku). Seketika mataku terbelalak, ketika Suster Natalia sudah ada di hadapanku sambil memegang penggaris kayu besar yang tadi dipukulkannya di mejaku.

“Bobby, coba kamu jelaskan tentang Nabi Musa seperti yang suster ajarkan barusan?” kata suster Natalia sambil menatapku tajam.

Aku tertunduk sambil menggaruk-garuk kepalaku sendiri dan mencoba menjawab pertanyaan dari suster Natalia,
“E..anu..anu suster…” jawabku gagap.

Dengan jumlah murid yang beragama Katolik sedikit ditambah suasana yg begitu hening saat Suster menantikan jawabanku, membuatku tak berkutik untuk meminta bantuan bisikan dari teman di dalam kelas agama.

Beberapa menit aku terdiam dan bingung tak bisa menjelaskan kembali pelajaran yang baru saja diajarkan Suster Natalia.
“Sudah sana kamu keluar dan tunggu di luar kelas” ucap suster Natalia.

Dengan langkah gontai dan tanpa pembelaan akupun berjalan keluar dan duduk di depan pintu ruang agama Katolik. Sampai pada akhirnya bel pelajaran berbunyi tanda sudah sekesai kelas agama. Aku masih tetap berada di depan pintu ruang agama dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kudengar doa penutup pelajaran agama sudah selesai dan tak berapa saat suster Natalia keluar ruangan. Beliau menatapku dari kejauhan, namun saat melintasiku suster berlalu dengan sikap dingin tanpa menyapaku.

“Sus..suster…” ucapku gagap. Aku berjalan mengejar beliau, namun Suster Natalia tetap tak bergeming. Aku akhirnya memberanikan diri untuk menyenuh lengan tangan kanannya. Seketika Suster Natalia menghentikan langkahnya di lorong sekolah.

“Suster, aku minta maaf atas kejadian tadi” ucapku.
“Aku janji akan bersikap baik di kelas dan memperhatikan pelajaran…kalo perlu suster boleh memberikanku hukuman atas kesalahan yg aku lakukan tadi” imbuhku. Kali ini aku berdiri menghadang Suster Natalia hingga beliau berhenti dan kedua bola matanya yang indah menatapku kembali dengan tajam. Cerita dewasa

“Baik jika itu permintaanmu, suster minta kamu datang ke Susteran jam 4 sore dan sekarang kamu kembalilah ke kelasmu.” ucap suster sembari bejalan kembali.
“Terima kasih suster…” kataku. Aku menundukkan kepala dan menggeser tubuhku untuk membirikan jalan.

Singkat cerita, jam sudah menunjukkan jam 3 sore, aku segera bergegas mandi, setelah berpakaian rapi aku langsung berangkat ke susteran.
Tak berapa lama aku pun sampai di depan gerbang susteran. Setelah mobil kutepikan aku mengetuk pintu pagar besi yang tertutup rapat dan keluarlah Suster Natalia.

“Eh kamu Bobby, ayo silahkan masuk” sapa suster.
“Makasih sus” jawabku.
“Kamu sama siapa?” tanya suster dengan bahasa tubuhnya seolah menanyakan siapa yang menungguku di dalam mobil.
“Aku sendiri sus” jawabku lagi.
“Kamu nyetir mobil sendiri?” tanyanya heran diikuti dengan tarikan nafas panjang dan gelengan kepala.

“Iya suster…. ” jawabku singkat dengan perasaan sedikit bangga namun tetap menunjukan mimik cemas akan reaksi suster Natalia.
“Emang orang tua kamu mengijinkan kamu bawa mobil sendiri?” tanyanya lagi.
“Papa dan mamaku di Jakarta sus, aku dari kecil ikut kakek nenekku” jawabku. Akhirnya sore itu suster Natalia tahu tentang keadaanku yang sebenarnya, bahkan raut wajahnya yang biasanya datar pun kulihat berubah menunjukan rasa terenyuh dengan keadaanku.

Kami berdua duduk di sebuah bangku panjang ruang tamu susteran sambil aku menceritakan kondisi kehidupanku dan perlahan suasana semakin mencair, apalagi kondisi susteran saat itu sedang sepi, hanya ada aku dan suster Natalia. Belakangan aku tahu juga bahwa tempat itu hanya ditinggali oleh 3 orang suster diantaranya adalah suster Angela, suster Anna dan Suster Natalia, mereka bertiga punya kesibukannya masing-masing. Suster Angela yang seorang Kepala Sekolah SMA yayasan Katolik lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah selain melakukan pelayanan gereja atau berkunjung ke rumah-rumah umat di lingkungan paroki.

Suster Anna yang sudah berumur pun tak kalah sibuk memberikan pelayanan gereja, pelayanan umat, dan sering melakukan ziarah ke tempat-tempat yang disucikan oleh umat Katolik baik di dalam maupun luar kota karena diminta umat untuk menjadi pembimbing rohani. Sedangkan suster Natalia yang lebih banyak tinggal di susteran bisa disebut masih baru di lingkungan paroki kami. Tugas pokok suster Natalia selain melayani gereja adalah sebagai guru agama di sekolahku.

Selain belum lama ditugaskan di paroki ini suster Natalia juga tidak memiliki sepeda motor seperti Suster Angela dalam beraktifitas,hanya kegiatan yang benar dirasa perlu saja yang bisa dihadiri olehnya sehingga praktis beliau lebih banyak tinggal sendirian di susteran.

“Suster sedih mendengarnya Bob, pasti kamu sangat merindukan kedua orangtuamu ya?” tanya suster sambil mendekatkan dirinya dengan posisi tubuh yang mengarah padaku sambil mengusapkan tangannya di rambutku.
“Iya suster…” jawabku singkat.

Belaian tangan suster di kepalaku saat itu membuat tubuhku tiba-tiba merinding seperti tersengat listrik meski hanya hitungan detik.
Aku refleks melihat wajah suster Natalia yang saat itu duduk disampingku, ingin rasanya kudekatkan wajahku dan mencium bibir tipisnya, ooohhhh…

Kemudian beliau menarik tangannya dari kepalaku dan merubah posisi duduknya sambil menghela nafas panjang. Kepalanya menengadah keatas cukup lama dan saat itu pula kulihat matanya berkaca-kaca.
“Suster kenapa? Apa ada perkataanku yg salah?” tanyaku penasaran.
“Ga kog Bob, ga ada yg salah dengan ucapnmu” jawabnya sambil menyeka air matanya yg menetes di sudut matanya dengan jarinya.

“Suster hanya …. ” suster Natali menghentikan kata-katanya sambil menarik nafas dalam-dalam.
“Bobby minta maaf kalau ada salah, maaf sudah bikin suster sedih dengan cerita Bobby…” ucapku.
“Enggak kog Bob, kamu ga salah …. Suster sedih karena teringat orang tua di NTT … Saat ini Ibu suster sedang sakit parah dan dirawat di rumah sakit ….” jawabnya.
“owh … maaf suster, Bobby gak tahu …” ucapku.
“Ingin sekali suster bisa pulang tapi suster belum bisa ….” ucapnya lagi.
“Sabar ya suster ….” kataku. Entah kenapa aku tiba-tiba berani meraih dan menggenggam tangan suster Natalia.

“Yang penting sekarang kita doakan ibu suster agar kondisinya semakin membaik, kita doakan juga saudara-saudara disana agar senantiasa diberikan ketabahan dan kekuatan dalam merawat ibu suster….” ucapku mencoba menenangkan suster.
Seketika itu pula suster Natalia melepaskan tangannya dari genggamanku dan memelukku dari samping dengan erat.
“Terima kasih Bobby…. kamu baik sekali …. selama ini suster sudah salah menilaimu …” katanya.

[ Nonton Juga Film Dewasa Disini – Film Dewasa ]

Mendapat perlakuan itu, jantungku serasa berhenti berdetak ditambah toket suster Natalia menempel di lenganku, meski memang saat itu masih terhalang oleh baju yang kami kenakan. Rasa empati yang ada dalam diriku berubah drastis menjadi nafsu yang berkobar saat gundukan kenyal yang samar tergambar dalam otakku, tonjolan bulat berukuran sedang namun padat dan kencang itu lembut menekan lengan kiriku. Dalam hitungan detik suster Natalia sudah melepaskan pelukannya saat aku masih berusaha untuk menikmatinya.

“Ma..maaf Bob…suster terbawa suasana” katanya terbata-bata dan kembali memperbaiki posisi duduknya.
“Gapapa suster … ” jawabku meski sebenarnya aku sangat bersedia memberikan tubuhku sebagai tempat pelampiasan emosinya.

Sesaat kemudian kami berdua sama-sama terdiam, entah apa yang ada di pikiran suster saat itu namun dalam benakku hanyalah kelembutan toketnya yang masih saja terngiang.
“Udah hampir malam Bob, sebaiknya kamu pulang” ucap suster.
“Lalu bagaimana dengan hukuman atas kesalahanku di kelas tadi sus” tanyaku.
“Tidak ada hukuman buat kamu, suster hanya minta kamu lebih konsentrasi dan bersungguh-sungguh dalam belajar … dan sekarang suster ingin berdoa sendiri untuk kesembuhan ibu …” ucap suster.
“Baik suster, kalau begitu Bobby pamit …”

“Terima kasih ya Bob, berhati-hatilah di jalan …”
Aku menganggukkan kepala dan membalikan badan menuju pintu keluar..
“Bobby … ” panggilnya sembari berjalan mengikutiku keluar.
“Tolong jangan ceritakan kejadian tadi pada siapapun” pesannya.
“Dan satu lagi, kapanpun kamu mau, kamu boleh datang kesini….” imbuhnya.
“Iya suster, Bobby pamit …”

Semenjak saat itu hubunganku dengan suster Natalia semakin membaik, di kemudian hari saat aku berpamitan pada kakek nenek untuk berkunjung ke susteran, justru nenek acapkali menitipkan makanan atau lauk pauk untuk para suster disana. Memang hal ini tak lazim jika dilakukan oleh remaja khususnya cowok seumuranku, namun aku tak peduli, berbagai alasan kugunakan agar aku bisa selalu dekat dengan suster kesayanganku itu.

Mulai dari mendapatkan hukuman, pendalaman imanku, atau alasan memberikan pelayanan dan pengabdian pada gereja, (gereja dalam arti luas). Begitu pula dengan suster Natalia, aku yakin beliau pasti melakukan hal yang sama pada suster lainya, lingkungan atau umat yang mungkin melihatku mondar-mandir di susteran itu. Memang tak sering dan tak banyak yang bisa kulakukan disana, misalnya seperti membersihkan halaman susteran, menyapu dan mengepel lantai atau berkonsultasi mengenai masalah keagamaan dan semua itu kulakukan dengan tanpa terpaksa.

Ini merasakan ini merupakan hubungan yang aneh tapi entah kenapa masih saja kujalani dan begitupun kurasakan dengan suster Natalia. Hubungan kami tak lagi seperti seorang murid kepada gurunya atau seorang rohaniawan dengan umatnya. Kami sudah seperti sahabat, bahkan seperti sepasang remaja yang menyimpan perasaan satu sama lain, apakah dia menyimpan persaan yg sama seperti yg kurasakan? Hingga pada suatu waktu,
“Bobby bisakah kamu mengantar suster ke goa tritis hari minggu besuk?”
“Bisa suster, emangnya ada acara apa disana?”
“Ga ada acara khusus sih, suster hanya ingin ziarah dan melakukan doa pribadi saja”

Hari minggu akhirnya kami berangkat ziarah. Rencananya memang sepulang dari misa di gereja langsung bertolak ke tempat ziarah, namun karena awal musim hujan yang membuat cuaca jadi kurang bisa ditentukan. Terkadang hujan tiba-tiba datang dan berhenti tanpa bisa dikehendaki, sama seperti pada hari itu. Sedari pagi hujan mengguyur kota kami, meskipun tidak terlalu lebat namun berlangsung cukup lama. Kami bahkan sudah berencana membatalkan tujuan saat itu, sekali lagi entah kenapa sepertinya ada rasa yang menggebu membuat aku dan suster Natalia tetap berangkat kesana saat hujan mulai reda.

Mobil Toyota Starlet yang kukendarai sudah sampai di area parkir goa tritis. Meski begitu perjalanan belum selesai karena memang untuk mencapai tempat itu harus dilanjutkan dengan berjalan kaki melalui jalan setapak terjal dan naik turun perbukitan. Di perjalanan, aku bak seorang pangeran yang sedang menikmati keindahan alam bersama seorang putri yang cantik jelita saat itu. Betapa tidak, nanyian merdu suara alam seolah mengiringi perjalanan kami melintasi jalan bebatuan yang terjal dan licin di tempat itu.

Sesekali aku dengan sigap meraih tangan suster Natalia yang kesulitan melangkahkan kaki di bebatuan terjal atau tanjakan curam, bahkan kami sempat beberapa kali terbawa suasana hingga lupa melepaskan tangan. Nafsu birahi yang biasanya memuncak saat membayangkan suster Natalia menemaniku beronani, kini ditambahi dengan perasaan aneh yang belum pernah aku rasakan. Detak jantung yang berdegup semakin kencang dan nafasku pun tak beraturan. Oh… apakah ini yang dinamakan dengan cinta?

Sampai di goa tritis kulihat masih ada beberapa pengunjung yang melakukan doa disana. Tak ketinggalan kamipun berdoa bersama, meskipun kemudian suster Natalia mempersilahkan aku untuk menunggunya sebentar karena beliau ingin memanjatkan doa-doa khususnya secara pribadi.
Aku berjalan-jalan mengitari mulut goa sambil menyalakan sebatang rokok sambil menunggu suster Natalia selesai dengan doanya.

Suster Natalia memang tahu kalau aku merokok namun beliau tidak pernah lagi memarahiku, hanya terkadang menasehatiku akan bahaya rokok, atau soal uang pembelian rokok yang lebih baik kutabung . Hubungan kami benar-benar sudah sampai pada titik dimana kami bisa menerima kekurangan masing-masing.

Hari sudah semakin sore dan rintik hujan sudah mulai turun, aku bergegas memperingatkan suster Natalia untuk segera menyelesaikan doanya dan segera turun dari bukit. Hanya tinggal kami berdua yang masih ada di dalam goa dan kami putuskan untuk segera pulang. Hujan kembali turun dengan derasnya memaksa kami harus berdekapan dibawah payung lipat yang sudah disiapkan oleh suster Natalia.

Seharusnya aku bisa menikmati ini, namun hujan yang semakin deras memaksaku untuk lebih berkonsentrasi dengan jalanan yang tidak bersahabat hingga kuputuskan untuk berteduh di sebuah aula tak jauh dari goa itu. Suasana yang sunyi ditambah hembusan angin yang kencang menerpa tubuh kami yang sedikit basah terkena hujan, membuat kami berdiri berhimpitan di teras aula itu.

“Suster, sebaiknya kita berteduh sambil menunggu hujan mereda …” kataku mencoba memecah keheningan saat itu.
“Iya Bob…” jawabnya menggigil dengan tangan yang disilangkan di dadanya seolah mencoba menghangatkan tubuhnya sendiri.

Secara refleks kutelusupkan tangan kananku diantara punggung suster Natalia dengan dinding aula yang dingin. Kugenggam tangan kanannya dan kuelus perlahan sembari berkata,

“Maaf suster, Bobby kasian melihat suster kedingan seperti ini” ucapku.
Suster Natalia tidak merespon kata-kataku, hanya kulihat matanya mengerling kepadaku. Suster Natalia hanya menatap ke depan, sesekali meringkuk menundukkan kepala menahan dingin yang menerpa kami sore itu. Ingin rasanya kudekatkan wajahku dan kukecup pipinya, namun saat itu aku masih ragu-ragu. Hingga akhirnya aku sudah merasa tak kuasa mengungkapkan peasaanku kepadanya.

“Suster, Bobby sayang banget sama suster” kataku memberanikan diri.

Kemudian Suster Natalia memalingkan wajahnya kearahku, namun beliau hanya diam saat bertatapan dalam jarak yang sangat dekat.
“Aku juga sayang sama kamu Bobby” balasnya. Selang beberapa saat suster Natalia membuka bibirnya, meski saat itu ia menundukan kepalanya saat mengungkapkan rasa sayangnya kepadaku.

Bagai melayang diudara saat itu, entah hujan atau setan penunggu bukit inipun seolah akan mampu aku hadapi nanti, yang penting saat ini aku bisa berlama-lama dengan pujaan hatiku.

“Terima kasih suster” ucapku. Aku mengusap lengan kanannya dan sesekali kuremas lembut.

Kami berdua larut dalam suasa hening, jantungku berdesir. Sesekali kami salig bertatapan kemudian memalingkan muka. Hingga kuberanikan diri mendekatkan wajahku dan mengecup bibirnya. Suster Natalia tak menolak, namun ia hanya menundukkan kepalanya. Aku semakin berani dan kuubah posisiku hingga kami saling berhadapan. Suster Natalia menatapku dan kami kembali saling berciuman.

Kali ini suster Natalia mencoba membalas ciuamku, bibir dan lidah kami saling berpagutan seolah ingin saling menunjukan kedalaman cinta kami satu-sama lain. Aku yang memang sudah terbiasa bermain cinta dengan pacar-pacarku, ditambah dengan referensi film biru yang sering kutonton, membuatku tak puas dengan hal itu. Kontolku yang sudah tegang saat kami saling berpelukan di bawah payung, menjadi semakin besar dan mengeras mendesak suster Natalia.

Kuusapkan tanganku di punggungnya sambil kami tetap saling berpagutan, sesekali kuturunkan hingga mengenai pantatnya yang memang benar kencang seperti bayanganku selama ini. Sampai hingga saat aku hendak menyingkapka roknya, suster Natalia melepaskan ciumannya dan kemudian mendorongku agar menjauh sambil berkata,

“Jangan Bobby, kita sudah terlalu jauh dan aku rasa kita sudah sangat salah dan berdosa”
Emosiku bergejolak saat itu, akal sehatku justru semakin hilang saat kudengar kata-kata suster Natalia itu.
“Tapi suster, Bobby benar2 sayang sama suster” ucapku menyakinkan.
“Aku tau dan aku pun juga sayang sama kamu tapi…” ucapnya terpotong.

Aku kembali mendekatinya dan kupeluk tubuh suster Natalia.
“Suster, ijinkan Bobby menunjukan rasa sayang Bobby kepada suster, setidaknya untuk sekali ini saja suster” ucapku memohon.

Entah setan apa yang merasukiku sehingga kata-kata itu tiba-tiba keluar dari mulut. Mata kami kembali beradu seketika bibir kami pun juga kembali berpagutan. Kutarik tangan kanan suster Natalia yg masih terasa ragu menelusup ke dalam celana jeansku, masih terasa susah karena kami juga masih menikmati lidah kami yang juga saling beradu. Dengan sigap kubuka kancing dan retsliting celanaku hingga kontolku pun terbebas mengacung meski masih dalam genggaman tangan suster Natalia. Kubimbing tangannya untuk mengocok kontolku yang besar dan panjang itu.

Sementara aku masih berkonsentrasi dengan bibirnya, sesekali kuremas toketnya dari luar bajunya. Hingga saat kocokan tangannya kurasakan semakin berirama, kutekan kedua bahunya kebawah. Suster Natalia sepertinya sudah sedikit paham dengan maksudku. Ia sudah dalam posisi berlutut dan dihadapannya sudah mengacung kontolku yang tegak mengacung, kepalanya menengadah dan kedua bola matanya menatapku dalam-dalam.

Tanpa kata-kata seolah-olah dia tahu apa yang harus dikerjakan saat kugerakkan pantatku perlahan hingga ujung kontolku menyentuh bibirnya. Bibirnya yang tipis perlahan terbuka seolah mempersilahkan kontolku merasakan kehangatan mulutnya. Perlahan kepalanya mulai bergerak maju-mundur dengan penuh perasaan,”Plooop..ploop…slurppp…”

“Aaahh..terus suster sayang…enak banget sus…aaahhhh…” desahku sekenannya sementara sesekali kulihat suster kesayanganku sudah mulai mahir memijat kontol besarku dengan mulutnya .
“Oooohhh terus ssuusss…aku mau keluaaarrr…oohhh….” rancuku. Seketika itu suster Natalia semakin mempercepat kocokannya dan menyedot isi kontolku. Dan tak berapa lama,

“Croooorr…croot…crooot…” suster Natalia terkejut dan seketika melepaskan kontolku keluar dari mulutnya. Spermaku menyembur keluar membasahi mulut dan muka suster Natalia. Dia langsung mengelap sisa spermaku yg membasahi mukanya. Dia kembali berdiri dan berkata,

“Iiiihh Bobby kamu jahat”. Aku hanya tersenyum dan membenahi celanaku lagi. Kudekap tubuh kekasihku itu dan kukecup keningnya, kamipun kembali berpelukan sambil menunggu hujan reda di tengah hutan itu.END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar